Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Diskursus dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

attas knowledge

*Pemaparan Syamsuddin Arif

Pendapat yang memosisikan ilmu pengetahuan sebagai satu hal dan agama sebagai hal lain, keduanya adalah dua hal terpisah yang tidak berhubungan, biasanya menggunakan dalil bahwa: science is neutral, science is universal, science has nothing to do with religion.

Is it true that science is neutral? Is it value-free? Pendapat ini beranggapan ilmu pengetahuan adalah fakta dan fakta adalah kebenaran. Namun diskursus science di Barat, oleh Juergen Habermas membantah pendapat ini dalam karyanya Knowledge and Human Interest. Ternyata Habermas menjelaskan bahwa scientist jaman Hitler bekerja untuk kepentingan satu ideologi. Faktanya, science kembali bekerja untuk menyerang ideologi Hitler pasca PD II untuk interest yang lain.

Penelitian juga dilakukan untuk kepentingan lembaga donatur dari dana korporat untuk kepentingan korporasi dan pemodal. Mulai dari ideological interest, economical interest, political interest, national interest bahkan religious interest mewarnai science. Habermas berkata: we can’t ged rid of political interest. Okay jika kita lepas dari political or economical interest, but what about personal interest that related to ideology and worldview? whether we realize or not. So science is neutral is not so accurate.

Science is universal? Karena science ada dimana-mana, karena ada dimana-mana maka sama dimana-mana. Misalnya matahari, sinarnya ada dimana-mana dan untuk itu ilmu tentang matahari ada dimana-mana dan bersifat universal. Ilmu tentang panas atau pancaran sinar matahari di kutub utara akan berbeda dengan yang terjadi di wilayah tropis. In some respect, science is universal but in many respect, it is not, science mengandung unsur-unsur partikular. Kita tidak bisa mengatakan science sepenuhnya universal, juga tidak bisa mengatakan science sepenuhnya tidak universal. Science dikembangkan di Cina tidak sepenuhnya sama dengan science di Islam, science di Jepang, perancis, dll.

Scientist yang muslim semestinya punya padangan yang berbeda terhadap science dan terhadap penelitian ilmiah yang dia lakukan.

Science has nothing to do with religion vs science has something to do with science.
Pendapat science tidak berhubungan dengan agama, jika yang mengatakannya kristen, maka itu benar, tidak semua agama has something to do with science and has something to say with science, but not Islam.

Contohnya produk science seperti kondom, Islam has no interest in producing such product of science. Tapi dalam Islam, Islam mengatur science untuk mengarahkan science bukan pada produksi alat seperti kondom yang tidak bermanfaat bagi muslim.

Dalil-dalil tersebut terbantahkan dari diskursus-diskursus keilmuan di Barat sendiri sebagai pegangan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa: there is an Islamic science, Islam has something to do and something to say in and about science, Muslim need to develop Islamic science, there is an Islamic purpose for developing Islamic science, Islamization of knowledge is highly needed in Muslim world.

*30 Agustus 2015/belajar di hari minggu. ‪#‎SyamsuddinArif‬

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 11, 2015 by in Catatan Lepas and tagged , , , , , , , .

Navigation

%d bloggers like this: