Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Gesture bicara di Oxford University: Hamza Yusuf dan Thariq Ramadhan

rethingking islamic reform

Tulisan ini menceritakan tentang sebuah seminar yang diadakan di Universitas Oxford, Inggris. Oxford merupakan salah satu universitas terbaik di dunia yang telah melahirkan banyak pemikir terkenal. Tradisi sangat melekat pada kampus ini, salah satu bentuknya adalah “carnation”, semacam setelan tuxedo khas khas kampus ini yang wajib dipakai saat mahasiswa mengikuti ujian. Bagi Oxford, tradisi adalah sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Dari tradisi inilah Inggris dan bahkan dunia dalam beberapa abad terakhir telah mengalami perubahan besar.

Dalam seminar bertema “Rethingking Islamic Reform” yang diadakan oleh college Islamic Studies ini dihadiri dua pembicara. Pertama adalah ketua “prodi” ini sejak 2009, Thariq Ramadhan, seorang cendikiawan berdarah Arab dan besar di Perancis, kakeknya dari garis ibu adalah pemikir besar Islam, Mesir dan Universitas al Azhar. Yang kedua adalah Syekh Hamza Yusuf, seorang kulit putih warga negara Amerika Serikat, masuk Islam pada umur 17 tahun dan pernah belajar dengan beberapa Ulama terkenal di dunia Islam. Ia mendirikan Zaytuna College sebagi kampus Islam pertama di Amerika Serikat, kampus pertama yang mengajarkan “tradisional islamic teachings”.

Saya tidak bermaksud menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh kedua pembicara ini. saya tertarik dengan kedua orang pembicara dan coba menerjemahkan gesture keduanya. Hamza, sama dengan Thariq Ramadhan, sama-sama mengenakan setelan jas dan berkemeja putih tanpa kerah, bedanya jasnya Thariq berpotongan slimming fit, lebih ngepas di badan,sebagaimana jas khas Inggris. Sedangkan Hamza bersurban, ini menunjukkan ia seorang yang berasal dari pendidikan tradisional Islam, sebagaiman mereka yang di Dayah dan pesantren tradisional.

Hamza lebih dulu tampil ke meja di depan, disaat pembawa acara sedang mengenalkan profilnya ia duduk dengan tegap dan sedikit membungkukkan kepala sambil memejam mata dengan halus. Thariq yang duduk berselang dua kursi dengannya sebelumnya bangkit dengan sigap saat namanya dipanggil, ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya dan melemparkan pandangannya ke seisi ruang menghadap para hadirin dengan dagu tegap seolah dagunya sedang menunjuk para hadirin.

Sesekali Hamza memejamkan mata saat menunggu gilirannya untuk menyampaikan kuliahnya, bibirnya tampak mengucapkan sesuatu dengan perlahan dan berulang namun tidak berlangsung lama. Bagi orang Aceh yang melihat pasti langsung ngeh bahwa yang dilakukan Hamza adalah meurateb atau mengucap, mungkin juga berdoa. Menegakkan dagu membuat pandangan mata Thariq terkesan flamboyan dan matanya terlibat lebih sayu. Tatapan ini mengingatkan film-film eropa abad pertengahan, mirip dengan pandangan bangsawan Inggris. Namun Thariq punya mata orang Arab yang lebih indah. Ia lebih terlihat gagah ketimbang potret bangsawan Inggris atau Prancis abad pertengahan yang lebih sering dilukiskan dengan perut buncit, sementara Thariq badannya begitu ideal untuk seorang pria seusianya.

Ada yang menarik untuk diamati. Hamza merepresentasikan gesturenya layaknya ulama. Hal ini mungkin dapat dimengerti karena pendidikan Islam bukan soal penghafalan, penguasaan materi dan juga kecerdasan. Ilmu dalam Islam salah satunya adalah adab. Banyak yang bilang adab adalah bagian terpenting dalam ilmu. Hamza menampilkan dirinya dengan adab Islam yang baik di sebuah ranah akademik tertua dunia. Tidak ada yang salah dengan Thariq. Saya sedikit banyak mengaguminya. Pendapatnya yang banyak berbicara tentang penindasan di Palestina banyak membawa pengaruh di barat. Ia juga memperjuangkan pemahaman multikultur agar Islam lebih diterima di negara-negara barat. Khususnya daqlam memperjjuangkan imigran Islam dari diskriminalisasi.

Background yang mejadikan dua orang ini tampil di acara ini, yaitu latar belakang pendidikan mereka telah banyak mempengaruhi gesture mereka. Thariq lebih terlihat barat dan Hamza lebih terlihat timur. Terlepas dari itu, mereka saling menghormati satu sama lain dan saling menghargai pendapat satu sama lain. Meski itu tidak menjadi alasan untuk tidak meemberikan argumen bantahan, seperti Hamza yang memperdebatkan konsep reform dalam Islam yang baginya menggunakan istilah itu memberi kekeliruan pemahaman, karena kristen dalam sejarahnya mengalami reformasi yang menyebabkan perubahan yang hampir total dalam tubuh kristen hingga lahir kelompok Lutheran, Calvinis dan masih banyak lagi. Bagi Hamza, kata renovasi yang diadopsi dari bahasa Perancis lebih tepat untuk menjelaskan hal yang perlu dilakukan. Merenovasi bagian-bagian dalam Islam yang mungkin kini tidak lagi berfungsi dengan baik.

Thariq Ramadhan jauh lebih dikenal oleh umat Islam ketimbang Hamza Yusuf.Oleh karena itu sya lebih tertarik menerjemahkan ia dalam tulisan ini. Hal menarik lainnya dari Hamza adalah ketika ia mulai menyampaikan kuliahnya. Ia menggunakan kata we/kita merujuk pada dirinya dan Islam. Kemudian ketika ia merujuk western civilization ia mencoba menjelaskan dengan kata they dan you/ mereka dan kalian. Namun setelah itu ia menggunakan kata we/kita sekali lagi yang merujuk pada dirinya sebagai warga negara Amerika Serikat dan dengan leluasa menjelaskan Amerika Serikat dari perspektif dirinya yang memang asli warga AS dan bule tulen.

Pertukaran kata saya, kami, kita kalian dengan melepas stereotype bahwa kulit putih,warga AS adalah kristen atau atheis atau berbagai stereotype lainnya menjadi hilang sama sekali. Hamza sama sekali tidak mengurangi keislamannya ketika merujuk dirinya sebagai seorang warga negara adidaya dunia. Identitas sudah berubah, banyak hal baru terjadi. habib Umar bin Hafidz pernah berkata yang kira-kira berbunyi: akan tiba masanya dimana tidak ada satu rumah pun yang terlewatkan dari masuknya dakwah Rasulullah. Dan bahkan di kampus seperti Oxford University

Advertisements

One comment on “Gesture bicara di Oxford University: Hamza Yusuf dan Thariq Ramadhan

  1. Md Hasri
    November 30, 2014

    Assalamualaikum, salam perkenalan. Bagaimana saya hendak berkomunikasi dengan saudara. Saya cuma terjumpa komen saudara berkenaan tentang keturunan Shahul Hamid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 21, 2014 by in Catatan Lepas, Kolom, Sosial Budaya and tagged , , , , .
%d bloggers like this: