Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Paradoks Negara Maju

The Paradox of American Power

PANDANGAN dunia sedang tertuju ke Korea Selatan (Korsel). Invasi budaya pop negeri ini yang dikenal dengan K-Pop telah merambah ke seluruh belahan dunia. Dibuktikan dengan sebuah lagu bertajuk Gangnam Style yang diakses tidak kurang dari satu miliar kali melalui laman web Youtube. Video klip ini menggambarkan kehidupan mewah di Gangnam, sebuah distrik kaum elite di Seoul, ibu kota Korsel.

Hal ini tidak terlepas dari kemajuan yang dicapai negara ini, baik dalam bidang ekonomi, budaya dan diplomatik. Beberapa perusahaan besar seperti Samsung, LG dan KIA yang mulai merajai pasar dunia ikut berperan besar dalam mendongkrak pendapatan per kapita Korsel hingga mencapai 30.000 dolar AS, hampir menyamai rata-rata pendapatan per kapita negara-negara Uni Eropa. Ditambah lagi dengan berkembangnya pasar Asia yang diakibatkan krisis finansial di Amerika Serikat dan Eropa.

Berkembangnya korporasi besar negeri ini di kancah internasional dan berkembangnya kaum elite yang dikenal dengan konglomerat Chaebol, menciptakan masalah baru di dalam negeri. Corak tatanan masyarakat kapitalis yang berorientasi pada pemenuhan materi telah menciptakan persaingan antarindividu yang ketat. Persaingan di tempat kerja guna meraih promosi jabatan dan kompetisi di bangku perkuliahan guna memudahkan akses pekerjaan berpendapatan layak telah mengakibatkan kecemasan kolektif di tengah masyarakat.

Stres dan depresi
Fenomena tersebut menyebabkan tingginya tingkat stres dan depresi. Hal ini dibuktikan dengan data dari Departemen Kesehatan Korsel yang dirilis pada 2009, rata-rata tingkat bunuh diri di Korsel mencapai 50 orang per hari dengan rasio 33,8 per 100.000 orang, meningkat tajam sejak 2000. Bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar anak muda di negeri ini.

Sementara itu, Amerika Serikat sebagai sebuah negara kapitalis adidaya dunia dengan kepemilikan aset negara dan PDB terbesar di dunia, kekuatan militer terbesar dan terkuat, acapkali diasosiasikan sebagai negara nomor satu di dunia. AS juga menduduki peringkat satu dalam beberapa permasalahan sosial. Negara ini memiliki rasio perceraian tertinggi, juara dalam penggunaan obat-obatan terlarang, dan diketahui sebagai negara dengan tingkat pembunuhan dan perkosaan tertinggi di dunia.

Fenomena masyarakat kapitalis ini diungkapkan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya The Great Disruption (2000) yang mengungkapkan memburuknya kondisi sosial di negara-negara industri sejak dekade 1960-an, khususnya di AS. Meningkatnya angka kriminalitas dan gangguan sosial, memburuknya hubungan kekerabatan keluarga dan masyarakat yang menciptakan masyarakat yang individualis serta tingginya angka perceraian dan menurunnya angka kelahiran.

Fukuyama menjelaskan beberapa hal yang menjadi pemicu kondisi ini. Namun penyebab-penyebab tersebut tidak terlepas dari dampak industri yang menciptakan masyarakat yang berorientasi ekonomis secara individual dan menyampingkan nilai-nilai moral dan kepentingan kolektif.

Dari contoh kedua negara maju di atas, ada sebuah pencapaian menarik yang memposisikan kedua negara maju ini melampaui negara-negara lain. Kemajuan yang diperoleh seolah berdampak buruk bagi masyarakatnya. Negara yang berorintasi kapitalis memang mampu mendorong produktifitas masyarakat sehingga mampu mendongkrak laju perekonomian negara.

Di sisi lain, kapitalisme telah menciptkan masyarakat yang berorientasi pada pemenuhan materi, pada akhirnya standar ekonomi menjadi suatu prasyarat atas kesuksesan seseorang dan menjadi patokan atas status sosial di tengah-tengah masyarakat.

Penulis menilai perubahan orientasi masyarakat terhadap kehidupannya memiliki kaitan erat dengan pendidikan. Selain dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang tercipta dari kebijakan pemerintah dalam merekayasa sosial. Pengaruh sistem pendidikan juga tidak bisa dikesampingkan.

Sistem pendidikan sekuler yang dipengaruhi oleh paham materialisme; sebuah paham yang melihat sesuatu dalam wujud lahiriah dan menegasikan tujuan Ilahiah atau sesuatu yang berhungungan dengan nilai agama, telah menciptakan suatu kepercayaan di tengah-tengah masyarakat bahwa ilmu yang berorientasi lahiriah. Maka, pencapaian yang bersifat ekonomis menjadi sebuah tujuan.

Konsep ta’dib
Naquib Al Attas (1990), seorang pemikir Islam tersohor saat ini, melihat pendidikan dalam konteks lain. Ia memperkenalkan konsep ta’bid. Dalam bahasa Arab dapat berarti adab. Tujuan ilmu pengetahuan sendiri adalah pencapaian ilmu yang sempurna dengan menciptakan manusia beradab dan menjadi panduan dalam beramal.

Al Attas melihat hal-hal tersebut sebagai sebuah entitas yang utuh, dimana tujuan pendidikan bukan hanya bersifat teoritis, melainkan menciptakan manusia yang mengaplikasikan ilmunya dalam adab dan amal, semuanya berjalan beriringan. Ketika orientasi pendidikan berjalan seiring dengan ini, maka dapat mengubah orientasi kehidupan masyarakat dalam melihat hidupnya maupun pandangannya terhadap dunia.

Untuk mencapai keadaan seperti ini, tentu tidak bisa terlepas dari Islam. Islam harus diposisikan sebagai sumber ilmu yang mana pengaplikasian ajarannya melalui amal dan adab adalah sebah manifestasi menjadi muslim sejati dan pencapaian hakikat ilmu.

Pencapaian seperti ini tentu mampu meredam kemungkingan terjadinya berbagai permasalahn kondisi sosial. Kecemasan individu atas tuntutan duniawi dapat diredam, anggapan sosial yang berpatokan pada nilai materi pun dapat beralih kearah keluhuran moral. Korelasi antara berbagai permasalah sosial sangat erat kaitannya dengan nilai agama, mengingat kedua negara yang dicontohkan di atas cenderung meninggalkan ajaran agama. Korsel sendiri merupakan negara dengan jumlah penduduk tidak beragama yang tinggi, mencapai 49 persen.

Indonesia sebagai satu negara berkembang dengan laju pertumbuhan ekonomi mencapai 6,2 persen dan dilihat sebagai satu pasar alternatif dunia, menurut McKinsey, sebuah lembaga survey internasional, diproyeksikan pada 2030 menjadi kekuatan ekonomi ketujuh di dunia.

Jika melihat pada kasus Korsel dan AS, maka pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai belum tentu berdampak positif bagi kualitas hidup rakyat Indonesia. Bisa saja permasalahan yang dialami kedua negara tersebut juga akan dialami oleh Indonesia.

*Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia tanggal 26 Januari 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 9, 2014 by in Kolom, Sosial Budaya and tagged , , , , .
%d bloggers like this: