Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Indoktrinasi: Film, Filsafat, Ateisme

Total_indoctrination_b

Film menampilkan tokoh-tokoh dengan berbagai karakter dengan perpaduan karakternya yang cukup kompleks, unik dan menarik. Ibarat gradasi warna, tidak ada yang benar-benar hitam dan putih. Film benar-benar menawarkan pilihan, mana  karakter yang difavoritkan penonton, mana yang paling ideal. Di sisi lain, film menawarkan karakter yang merefleksikan penonton; karakter yang “gue banget“.

Begitu juga alur pemikiran, dari satu alur pemikiran, terpecah menjadi berbagai madzhab pemikiran. Setaip -isme lahir diantara dua (paham) -isme yang bertentangan. Representasi tiap celah perbedaan di tiap persimpangannya memudahkan alur logika yang sederhana dan persepsi alamiah tiap individu untuk menyadari kecenderungannya ke salah satu paham, kemudian memastikan diri mengadopsi paham tersebut.

Dalam film, berbagai karakter tokoh yang berbeda dan bertentangan hanyalah jalan cerita demi satu tujuan, yaitu alur cerita yang menarik hingga ending yang memuaskan. Berbagai kondisi dan situasi emosional yang terjadi diantara tokoh terjadi bukan karena pertentangan itu sendiri. Melainkan dipertentangkan demi sebuah alur cerita.

Pemikiran dalam madzhab filsafat (perbedaan dan pertentangan antar satu mazhab dengan yang lain), saling berbenturan dalam memaknai realitas, kemudian mengkristal kembali dalam ide yang berbeda dengan pola yang berbeda pula. Proses ini melibatkan individu sebagai subjek yang melahirkan ide pembeda dan pemersatu, sekaligus individu maupun kelompok sebagai objek yang saling bertentangan atau dipertentangkan dalam memaknai suatu realitas berdasarkan dasar pemikiran tertentu. Namun mereka menemukan pemahaman yang sama dalam satu ide yang lain ketika dihadapkan pada kasus yang lainnya.

Ibarat drama dalam sebuah pementasan alam ide, terjadi proses pertentangan sengit dalam pertarungan ide yang akibatnya juga melahirkan pertentangan dua kelompok yang pro dan kontra. Namun yang dipertentangkan adalah hal-hal yang bersifat parsial dan spesifik. Secara umum pertentangan itu hanyalah dinamika yang terjadi diantara penganut filsafat yang berjalan dengan paradigma yang hampir sama. Skenarionya adalah tetap setia terhadap satu jalan dan tetap berada dalam alur cerita untuk memperjuangkan hal yang sama.

Film memproyeksikan pandangan terhadap dunia yang diibaratkan sebagai refleksi kehidupan nyata. Namun, film juga yang memisahkan manusia dari dunia, sejarah dan pandangan alamnya. Akhirnya, dunia kita terproyeksikan dari gambaran terhadap kenyataan yang spekulatif dan manipulatif. Dimudahkan dengan perasaan empati, merasa bagian dari suatu kondisi emosional dan realitas atas situasi yang menyentuh. Hal ini membuat kita tertarik untuk menerima sebuah pandangan filosofis yang ditawarkan lewat film tersebut. Jalan cerita dalam sebuah film dimana berbagi pilihan penyelesaian masalah yang diambil para tokoh di dalam film tersebut menjadi sebuah masukan baru bagi kita. Ia menawarkan pola pikir baru bagi kita hingga kita terjebak dalam sebuah pola pemikiran yang sebenarnya bersumber dari sebuah cara pandang baku dan komprehensif. Sebuah cara pandang yang bukan alamiah pandangan alam suatu masyarakat, namun sebuah pandangan hidup sesuai dengan sebuah mazhab pemikiran.

Contoh paling simpel dapat dilihat dari gambaran masa pubertas dan pencarian identitas pada remaja dalam sebuah film, Dimana pesan yang ingin disampaikan  (moral of the story) adalah: “be yourself”. Be yourself, dalam pemaknaan dangkalnya oleh remaja seperti membayangkan menjadi dirinya dengan menciptakan kaidah berpikir sendiri, standar moral dan etika sendiri, jalan hidupnya sendiri, yang sebenarnya tidak serta-merta ia ciptakan sendiri. Lingkungan di sekitarnya mempengaruhi alur pikirannya agar menjadi dirinya sendiri, bukannya mencontoh temannya. Film sendiri telah menciptakan panduan bagaimana menjadi diri sendiri. Juga gambaran visual tentang menjadi diri sendiri, dimunculkan dalam berbagai film dan berbagai karakter para tokoh. Menjadi diri sendiri; be yourself, dalam konteks ini lebih cocok disebut dengan be your-favorite character in the movie-self, bagaimana menjadi diri sendiri dengan mencontoh karakter favoritnya didalam film.

 

Film adalah indoktrinasi. Falsafah hidup dengan gambaran realitas yang mudah dipahami ini dijadikan sebagai contoh dan refleksi tentang kehidupan, dimana tokohnya menjadi panutan—oleh remaja khususnya. Setiap film dianggap sebagai kisah yang menuangkan hikmah. Sementara alur cerita dan hikmah atau moral of the storynya bukanlah sekedar pengalaman personal yang menjadi falsafah hidup. Seringkali, tokoh, alur cerita dan hikmah dari sebuah film mewakili sebuah pandangan dan pemikiran yang merefleksikan sebuah paham pemikiran yang teoritis. Melalui film, hal-hal teoritis yang rumit untuk dipahami dalam versi literatur, akan dengan mudah mempengaruhi seseorang tanpa disadari. Ia tak perlu paham dan mampu dicerna nalar untuk menjadi sesuatu yang diinginkan, sentuhan sisi emosional lebih banyak berperan disini. Film menjadi semacam alat yang merekayasa karakter individu. Permasalahn terbesarnya adalah, film ditonton oleh orang banyak dan film pun memiliki klasifikasi tertentu. Dapat kita temukan film remaja khas Hollywood yang menawarkan gaya hidup bebas dan bersenang-senang diluar kampus, juga film remaja ala Jepang dan Korea yang memiliki style dan karakter tersendiri. Karena film merupakan hiburan massa, maka film sendiri juga menjadi alat rekayasa sosial yang ampuh. Hal ini pun telah terbukti, dimana gaya hidup remaja dan pola hubungan antar sesamanya sangat terpengaruh oleh film dalam pergaulan mereka sehari-hari, aktivitas dan hubungan lawan jenis seperti pacaran, konfirmasi terhadap hubungan sejenis dan hal-hal lain yang mengindikasikan ketimpangan sosial yang cukup meresahkan orangtua dan masyarakat.

 

Bukan pula filsafat terlepas dari doktrin. Pelajar yang dituntut paham benar tentang teori evolusi, cenderung terhubung erat dengan prinsip-prinsip teori ini. Mohammed Ghilan dalam situs web pribadinya merujuk pada Daniel C. Dennet, filsuf yang dijuluki ‘The Four Horsemen of new Atheism’ melalui essay yang berjudul “An Evolutionary Account of Religion”menjelaskan agama dalam kerangka teori evolusi. Dalam kerangka evolusi, agama kehilangan esensi. Digambarkan dalam proyeksi sejarah yang dibatasi oleh prinsip-prinsip teoritisnya dalam proses evolusi. Tidak ada ruang bagi eksistensi Tuhan dan hal-hal metafisik dalam kerangka ini. Doktrin disini adalah memaksakan pemahaman terhadap Tuhan dan agama dalam determinasi bingkai kognitif. Siswa yang dituntut paham terhadap teori ini akan memandang agama dan Tuhan dalam perangkapnya,dengan menjadikan artikel-artikel Dennis dan yang sejenis sebagai bukti-bukti ilmiah (Mohammed Ghilan.com).

Teori evolusi cukup spekulatif. Meski banyak yang menjadi ateis karena mempercayai teori evolusi, namun sebenarnya teori ini lahir sebagai pembenaran atas ateisme yang dipercaya oleh para pemikir evolusi. Menjadi ateis menuntut mereka untuk berspekulasi tentang realitas, berangkat dari peristiwa paling awal tentang sejarah alam semesta, makhluk hidup dan manusia–untuk membela diri, membenarkan kepercayaannya sebagai seorang ateis tentang ketiadaan Tuhan. Kepentingan filosofisnya terletak pada kesadaran, kehendak bebas dan filsafat pemikiran untuk merasionalisasi segala hal termasuk yang non-rasional dan tindakan mereka yang irrasional.

Untuk membenarkan pandangan ateistik: bahwa tidak ada Tuhan, perlu begitu banyak penjelasan. Bagaimana sesuatu tercipta? bagaimama suatu hal terjadi? bagaimana awal dan akhir dunia dan kehidupan manusia? Semua pertanyaan yang mungkin muncul, semua masalah yang ada, musti dijawab tanpa melibatkan Tuhan didalamnya. Maka spekulasi nalar merupakan jalan satu-satunya untuk merasionalkan ateisme. Spekulasi memunculkan persepsi dan interpretasi berbeda, dalam bingkai kpercayaan: tidak ada Tuhan. Pertentangan alur-alur pemikiran para pemikir ateis cukup menarik dari masa ke masa, sementara tujuan dan esensinya sama, yaitu memberikan penjelasan rasional terhadap segala sesuatu dan cenderung meniadakan Tuhan. Kesadaraan akan pertentangan dan perang pemikiran dan daya spekulasi terus-menerus senantiasa melanggengkan kepercayaan tentang ketiadaan Tuhan, sementara yang mengaku percaya Tuhan, tanpa disadari, tidak lagi mempercayai Kekuasaan-Nya, sedikit demi sedikit.

Ketika kehidupan yang ditawarkan dari film didalam televisi dan dunia akademik yang terus mengenyampingkan kekuasaan Tuhan dalam cara pandang untuk memaknai realitas, kehidupan bagi mereka yang percaya Tuhan terus terancam. Ancaman paling besar adalah pergeseran iman yang berbasis pada keyakinan ke hal-hal yang bersifat materi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 9, 2014 by in Kolom, Sosial Budaya and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: