Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Perempuan dan Tafsiran Kebebasan

anifeminism

Setiap umat manusia harus memerdekakan perempuan yang tertindas. Ketertindasan perempuan hari ini adalah penjajahan atas dirinya yang bersumber dari segala hegemoni yang membuat kehidupan mereka terkungkung dan berjalan diatas rel yang ditetapkan oleh pengaruh dari globalisasi dan media dengan menjadikan perempuan sebagai konsumer mereka.

Salah satu penjajahan kaum perempuan hari ini adalah kebodohan. Kebodohan yang menyebabkan perempuan mengabiskan waktu dengan asyik membincangkan, memikirkan dan mengandai-andai kehidupan glamor para selebritis. Sehingga lahirlah perempuan-perempuan yang menyibukkan diri mereka dalam dunia konsumerisme.

Dalam dunia konsumerisme, mereka menghabiskan waktu dan uang untuk belanja kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Pola konsumsi hanya sebatas barangan mewah dan produk tertentu untuk mengejar ketetinggalan mereka didalam tren masa kini. Tren yang dipopulerkan melalui media cetak dan televisi mengharuskan mereka menjadi bagian yang mengikuti tren tersebut. Kemudian dalam hal mengikuti tren, mereka terpaksa membeli majalah dan tabloid yang membahas seputar perkembangan fashion sebagai panduan menjadi seorang konsumer berkelas (baca: fashion slave, hamba desaigner ternama, budak korporasi). Meski tak cukup uang untuk membeli produk tersebut, atau hanya sekedar untuk tahu, mengikuti trend dan berandai-andai tentang gaya sesuai tren saja sudah cukup bagi mereka. Dunia semacam ini menawarkan dunia fantasi bagi kaum hawa.

Dunia fantasi perempuan dalam skala makro/global, menjadi penyelamat dari produksi berlebih negara-negara maju. Dunia fantasi kaum hawa jadi penopang nilai ekspor suatu negara sekaligus menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi negara asal desaigner terkenal ditengah kekuatan raksasa ekonomi baru, Cina, yang memproduksi barang KW (barang tiruan dengan model dan bentuk yang hampir sama). Perekonomian negara Cina dimana dunia usaha disana memproduksi barang tiruan tersebut juga ditopang oleh dunia fantasi kaum hawa yang menjadikannya sebagai alternatif keterbatasan finansial mereka untu membeli produk yang asli.

Dalam skala mikro, untuk bisa mengikuti trend, perempuan kerap menjalani diet ketat dan mengonsumsi obat diet dan nutrisi semacam Herbalife. lagi-lagi menopang perekonomian negara produsennya. Bahayanya, hal ini mengancam daya beli produk lokal serti beras, dan yang lainnnya. Sekali lagi, untuk masalah ini, raksasa ekonomi dunia, Cina punya obat alternatif untuk mimpi sang putri di dunia fantasi. Paling tidak, Cina punya industri kesehataan sekelas klinik Tong Fang.

Untuk tidak menyebutkan permasalahan rumah tangga yang berakar dari fenomena diatas, plus pemicu tidak langsung untuk tindak pidana korupsi para suami, imbas langsungnya adalah anak, ditengah kesibukan para ibu-ibu yang mengikuti tren (gaul). Tentu saja kehidupan wanita yang telah disibukkan dengan kehidupan ala selebriti dan konsumeristis seperti ini akan mengurangi perhatiannya pada tanggung jawab dasar rumah tangga dan sibuk dengan urusan dunia dengan para wanita yang setipe dengannya.

Ditambah lagi sang suami yang merasa investasinya dalam menyukseskan program istri yang mencanangkan program “mempercantik diri” tak kunjung menuai hasil. Tak kunjung cantik, obat muka racikan dokter dan klinik tersebut justru menimbulkan ketergantungan seumur hidup, yang apabila meninggalkan produk tersebut, wajah mereka dapat berubah menjadi suatu yang tidak diharapkan. Ditambah lagi dengan potensi kerusakan seperti masalah iritasi kulit bahkan hingga kanker.

Sementara itu,  melepaskan diri dari kebodohan ini bisa mengarahkan pada kebingungan dan pencarian identitas tanpa henti sebagai sebagai seorang perempuan yang tentu melelahkan. Maka, perempuan yang diharapkan menjadi rekan dalam merekronstruksi kembali dunia dan kehidupan, yang punya misi visioner dan benar-benar memiliki konsep yang jelas dan komprehensif dalam pendidikan anak dan pembinaan keluarga akan menjadi langka. Kerjasama suami-istri sebagai relasi koorporatif untuk menggapai akhirat dan membentuk ummat jadi relasi saling melalaikan bagkan penuh tipu daya diantara keduanya. Padahal mereka perlu membangun relasi kerjasama yang punya kepeduliaan yang kuat kemana bahtera rumahtangganya diarahkan dan bagaimana mendidik anak mereka. Tak jarang dalam rumahtangga yang diakibatkan keadaan perempuan yang terjebak dalam kebodohan versi dunia modern, suami dan istri saling hindar dalam hubungan keduanya karena disibukkan urusan masing-masing.

Muslim hari ini, baik lelaki dan perempuan, memiliki musuh bersama. Yaitu tafsiran mengenai kebebasan. Tafsiran kebebasanlah yang sering disalah artikan yang pada akhirnya menjadi dalih bagi mereka untuk melakukan apa yang disukai semaunya. Padahal dalih tafsiran kebebasan yang digunakan hanyalah dalih atas keterkungkungan dalam jebakan kehidupan modern yang menjadikan dirinya budak konsumerisme atau fashion slave.Tafsiran semacam ini hanyalah pembenar dari ketidakmampuan mereka melawan arus jaman yang bertentangan dengan jatidiri dan identitas diri mereka sebagai seorang laki-laki maupun perempuan, seorang muslim/ muslimah maupun seorang yang hidup dalam entitas kebangsaannya.

Tafsiran kebebasan yang awalnya dikemas secara maskulin, kemudian hadir produk baru yang feminin (ibarat deodoran yang menyediakan versi men dan women). Dan kini, pertentangan kebebasan yang dihadapkan pada kita adalah ketika perempuan juga mau menggunakan deodoran for men dan laki-laki hanya mengizinkan deodoran for women untuk perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 9, 2014 by in Kolom, Sosial Budaya and tagged , , , , .
%d bloggers like this: