Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Menyoal Jejak Syiah di Aceh

syiah Sore tadi saya menghadiri diskusi yang mengangkat tema “Melacak Jejak Syiah di Aceh”. Dalam diskusi tersebut, beberapa pemateri memaparkan fakta-fakta sejarah yang mengindikasikan keberadaan ajaran Syiah di Aceh.

Status ini sempat tertunda karena saya harus menghadiri majelis pembacaan maulid Diba’i karya Al Muhaddist Syekh Abdurrahman Ad Diba’i yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Syiah. Tidak terhitung jumlah kitab Maulid. Dr. Shalahuddin Al Munjid menyenarai 181 buah kitab maulid dalam kitabnya. kesemuanya tidak ada kaitannya dengan Syiah.

Berdasarkan fakta sejarah, dipercaya bahwa Syiah lah yang pertama kali masuk ke Aceh. Di Peureulak ditemukan batu nisan Raja Peureulak pertama, Sultan Abdul Aziz Syah. Beliau adalah anak dari Muhammad bin Ja’far Shadiq (guru dari Abu Hanifah yang mengembangkan mazhab Hanafi) bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Sayydina Husein. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW. yang garis silsilahnya masih sangat dekat.

Selain bukti-bukti material berupa batu nisan yang berukir dengan syair-syair Persia, pemateri dalam diskusi ini juga melihat beberapa tradisi masyarakat Aceh seperti Khanuri Hasan Husen dan perayaan Hari Assyura serta syair tentang dua cucu mulia Rasulullah ini yang dipopulerkan oleh Rafli dalam lagunya dan beberapa contoh lainnya yang dijabarkan secara panjang lebar sebagai bukti peninggalan Syiah di Aceh.

Bisa dibilang, berbagai bentuk tradisi dan bukti-bukti yang menggambarkan bentuk kecintaan terhadap Ahlul Bait Rasulullah dengan mudah dicap berbau Syiah. Hanya Syiah lah yang mencintai Ahlul Bait, lain tidak. Padahal mencintai keluarga Rasulullah adalah perintah agama, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ahzab ayat 23: “Katakanlah Wahai Muhammad, aku tidak meminta suatu balasan apapun kecuali mencintai Keluarga (Rasulullah). Juga beberapa hadist: ” ”Demi Allah, iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim sehingga ia mencintai kalian (keluarga Rasulullah), karena Allah dan karena hubungan keluarga denganku.” (HR. Ahmad), “Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan-Nya dan cintailah aku karena kecintaanmu kepada Allah serta cintailah Ahlul Baitku karena kecintaanmu kepadaku”. (HR. At Thabrani), serta sejumlah hadist lainnya.

Maka tidak heran apabila Muslim, khususnya Ahlussunnah yang berpegang pada tradisi para Shalafusshaleh (bukan salafi) memiliki keterikatan yang kuat dengan Ahlul Bait dan melukiskan bentuk kecintaannya dengan berbagai cara.

Seorang pemateri mengutip kata-kata Imam Syafii yang diambilnya dari buku karya Prof. Abubakar Atjeh yang kira-kira berbunyi: “Jika karena kecintaanku terhadap Ahlul Bait Rasulullah aku disebut Syiah, maka aku adalah Rafidhah.” Kata-kata ini diucapkan oleh Imam Syafii ketika ia dibawa bersama sejumlah orang yang dituduh Syiah dari Yaman ke Baghdad untuk dieksekusi diepan Khalifah Bani Abbasyiah. Aceh secara mutlak bermazhab Syafii, jadi tidak heran jika kecintaan Imam Syafii ikut menular ke seluruh masyarakat Aceh.

Rafidhah yang dimaksudkan oleh Imam Syafii dalam kalamnya tersebut merujuk kepada golongan Syiah yang dianggap melenceng (termasuk Syiah Imamiyah). Kata ini muncul setelah Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin dibai’at oleh penduduk Kufah, tepatnya ketika usai berperang dengan Gubernur Irak. Pengikut Imam berkata: ” Kami akan terus berperang bersamamu setelah engkau katakan pendapatmu tentang Abubakar dan Umar yang telah berbuat zalim terhadap kakekmu (Ali bin Abi Thalib). Imam Zaid berkata: “Sungguh aku tidak akan mengatakan kepadanya keduanya selain kebaikan, karena aku tidak pernah mendengar dari ayahku tentang keduanya selain kebaikan.” Setelah mendengar pendapat tersebut, pengikut Imam Zaid meninggalkannya. Hingga terbesit kata dari Imam Zaid, “Rafadhtumuni” (kalian meninggalkanku). Sejak saat itu mereka disebut Rafidhah. Dari peristiwa tersebut juga berkembang istilah “Aghdaru min kufiyyin” (lebih khianat dari orang Kufah), ditambah pengkhianatan sebelumnya terhadap Imam Hasan dan Husein.

Selain berkembang anggapan bahwa seolah hanya Syiah yang cinta Ahlul Bait, juga muncul asumsi bahwa hanya Syiah mengikuti ajaran para Imam dari Ahlul Bait rasulullah. Jika dilihat dari sanad ilmu seluruh Thariqah Mu’tabarah, kesemuanya tidak terlepas mata rantai keilmuannya dengan Imam Ja’far Shadiq. Keseluruhan pendiri thariqah-thariqah ini (yang mayoritasnya Ahlul Bait Rasulullah) serta murid-muridnya hingga sekarang jelas Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan Abu Hanifah pendiri mazhab Hanafi adalah murid dari Imam Ja’far.

Kelompok Ahlul Bait rasulullah yang paling banyak kita temui di Nusantara adalah Bani ‘Alawi, berasal dari hadramaut, Yaman. Mereka berasal dari keturunan Ahmad bin Isa Al Muhajir (Naquib/pemimpin kabilah Ahlul Bait pada masa itu) yang memilih hijrah ke Hadramaut. Mereka bermazhab Syafii. Dari kelompok inilah muncul Thariqah ‘Alawiyah yang sangat dikenal di Nusantara. Di Aceh kita mengenal Thariqah Hadaddiyah yang dibawa oleh Tgk. Chik Hasan Krueng Kalee. Thariqah ini merupakan cabang dari Thariqah ‘Alawiyah yang bersumber dari Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Mereka juga yang banyak membawa pengaruh terhadap corak ajaran Islam di Nusantara. Banyak syair-syair karangan Ulama dari Bani ‘Alawi yang mencantumkan nama-nama Imam seperti Imam Muhammad Al Bagir dan Imam Ja’far Shadiq, dll. Apakah mereka Syiah? jelas tidak. Salah seorang Ulama masyhur dari Bani ‘Alawi, Habib Ali bin Abubakar As Sakran menjelaskan hadist tentang 73 golongan Islam dan yang selamat adalah Ahlussunnah wal Jamaah, dalam kitabnya Bughatul Mustarsyidin. Yang terbagi kedalam firqah-firqah: Syi’ah 22 aliran, Khawarij 20 aliran, Mu’tazilah 20 aliran, Murjiah 5 aliran, Najariah 3 aliran, Jabariah 1 aliran, Musyabbihah 1 aliran. Kitab ini dikarang tanpa tendensi bahwa ini upaya dari Amerika Serikat seperti yang diungkapkan salah satu peserta diskusi. Bahkan Amerika saja belum terbentuk pada saat itu.

Bahkan yang berbau Persia pun tidak bisa diklaim secara mutlak Syiah. Beberapa hal perlu dilihat sebelum secara gampang mengambil kesimpulan. Al Ghazali, Fariduddin Atttar, dan masih banyak lagi Ulama-ulama Islam yang hidup di wilayah Iran dan Transoxiana yang jelas Ahlussunnah.Maka anggapan bahwa mencintai dan menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah identik dengan Syiah adalah salah besar. Mengatakan bahwa yang berkaitan dengan Ahlul Bait Rasulullah langsung divonis berbau Syiah juga terbantahkan. Maka dalam menganalisa pengaruh syiah di Aceh khususnya tidak sesimpel dengan dua indikasi itu saja. Wallahu’alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 8, 2014 by in Kolom, Sosial Budaya and tagged , , .
%d bloggers like this: