Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Mesir: Sintesis Islam dan Demokrasi*

Revolusi Arab atau yang dikenal dengan Arab Spring telah menjadi buah simakalama bagi dunia Barat. Di satu sisi, merupakan sebuah visi, misi dan komitmen bagi negara-negara Barat untuk mendorong demokratisasi di berbagai belahan dunia. Di sisil ain, demokratisasi di negara-negara Arab, telah membuka jalan bagi berkembangnya kelompok-kelompok politik Islam.

Mesir sebagai Negara yang memiliki pengaruh besar di jazirah Arab dengan populasi besar, teritorial yang strategis dan pengaruh yang cukup kuat terhadap konstelasi politik kawasan Timur Tengah secara keseluruhan mendapat perhatian khusus dari dunia Internasional. Setelah dipimpin sekian lama oleh rezim militer despotik yang membangun hubungan baik dengan Barat dan Israel di kawasan ini. Revolusi Mesir sangat menentukan bagi konfigurasi politik negara-negara Timur Tengah dan pengaruh negara-negara Barat di kawasan tersebut.

Dimulai dari kemenangan Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang merupakan representasi kelompok Ikhwanul Muslimin, hingga kemenangan Mohammad Morsi yang juga merupakan anggota gerakan politik Islam paling berpengaruh di Mesir ini merupakan pukulan telak bagi sebagian kelompok demokrasi dan ditanggapi secara sinis dan paranoid. Berbagai opini muncul, Revolusi Arab dianggap salah arah, kemenangan kelompok politik Islam menjadi ancaman bagi demokrasi hingga pendapat yang mengatakan bahwa revolusi telah dimanfaatkan dan ditunggangi.

Kekhawatiran ini sebenarnya lebih mengarah pada kepentingan politik ketimbang keprihatinan kemungkinan gagalnya proses demokratisasi, khususnya bagi kepentingan negara-negara barat. Perlu digarisbawahi, Mesir merupakan satu-satunya negara Arab yang memiliki hubungan politik dengan Israel, memiliki pengaruh yang besar dalam Liga Arab dan dalam perjalanan sejarah telah banyak memainkan peran dalam membela kepentingan Barat termasuk dengan menekan kelompok pejuang Palestina yang berusaha mencari perlindungan ke perbatasan Mesir.

Secara geografis, Mesir berperan besar dalam jalur transportasi laut melalui Terusan Suez. Jika saja rezim baru memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan menutup akses ke Israel melaui terusan Suez dan Sinai di jalur darat, maka dampak kerugian ekonomi bagi Israel akan sangat dirasakan.

Populasi besar dan wilayah yang luas menjadikan Mesir sebagai sebuah negara strategis di Timur tengah di sektor ekonomi sekaligus pengaruh geopolitik Mesir di kawasan secara politik. Kebijakan rezim baru dalam hubungan kerjasama bilateral dan unilateral bisa saja tidak berorientasi ke Barat dan kemungkinan dapat membatasi ruang gerak barat di kwasani. Rezim baru juga memiliki kecenderungan menguatkan hubungannya dengan Turki yang sejak awal telah menyatakan dukungannya pada revolusi dan kelompok Islam. Bahkan kedatangan Erdogan pasca revolusi mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas dengan wacana poros regional baru yang dinakaman “axis of democracy”—gabungan negara-negara Arab yang mengalami revolusi dengan Turki sebagai inisiator. Kedepan, bisa saja Turki menjadi negara yang memegang pengaruh baru di Mesir dan menggeser dominasi Barat.

Bukan hanya Turki, Morsi juga berjanji memperkuat hubungan dengan Iran dengan mengeluarkan pernyataannya bahwa sebagian dari agendanya adalah kemajuan hubungan antara Iran dan Mesir yang akan menciptakan keseimbangan strategis di wilayah (baca:Timur Tengah).

Kemenangan ini juga disambut oleh HAMAS melalui statemen jurub icaranya yang menilai kemenangan Morsi sebagai kemenangan Revolusi Mesir dan peristiwa bersejarah bagai Kawasan(indonesian.irib.ir). Pernyataan-pernyataan ini seolah merupakan petunjuk dan gambaran sebuah perubahanpeta politik kawasan Timur tengah kedepan. Akan ada banyak perubahan baik yang memberikan sinyal positif dalam penguatan hubungan diplomatik bagi negara-negara di kawasan, maupun potensi eskalasi konflik, khususnya dalam kasus Israel-Palestina.

Benahi Dalam Negeri

Keberhasilan kelompok Islam dalam memperoleh kekuasaan di Mesir harus diperkuat dengan melanjutkan proses demokratisasi, melaksanakan tahapan konsolidasi demokrasi yang bertujuan menciptakan soliditas dalam negeri guna memperkuat legitimasi pemerintah dan mencegah beberapa faktor yang berpotensi menciptakan konflik baru. Hal ini penting untuk menjawab keraguan Barat atas Islam, sekaligus melawan pengaruh Barat yang menggunakan dalih demokrasi dalam meraih kepentingannya.

Hubungan antar kelompok masyarakat dengan identitas budaya dan kepercayaan yang berbeda di Mesir harus mampu dipersatukan dengan jaminan dari pemerintahan berkuasa. Masyarakat Kristen Mesir dan kelompok sekuler masih belum bisa mempercayai kelompok Islam sebagai penguasa, dengan jumlah dan pengaruh yang tidak kecil, kemungkinan mereka untuk menggoyang stabilitas pemerintahan harus dipertimbangkan. Hal ini yang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Morsi.

Dengan kondisi kemiskinan yang buruk, dimana sekitar 40 persen dari total 83 juta rakyat Mesir hidup dengan penghasilan di bawah 2 dollar AS, fokus perhatian utama Morsi adalah memperbaiki situasi ekonomi. Pekerjaan ini merupakan sebuah pekerjaan berat tanpa adanya stabilitas negara. Ditambah lagi Morsi harus membenahi birokrasi peninggalan rezim korup Mubarak dan tantangan dari militer yang masih belum rela melepaskan pengaruhnya dalam politik.

Militer masih merupakan tantangan besar bagi berlangsungnya proses demokratisasi Mesir. Morsi harus mampu meyakinkan berbagai elemen dan kelompok masyarakat bahwa demilitersisasi perlu dilakukan. Untuk itu Morsi harus mampu menyatukan berbagai kelompok masyarakat sipil guna memperkuat kedudukan sipil dalam politik dan untuk pertama kali dalam sejarah Mesir, mulai menempatkan tentara kembali ke baraknya.

Sulit membayangkan proses tersebut dapat berjalan dengan mulus, sesulit saat membayangkan Mubarak jatuh dari tampuk kekuasaannya. Jika Morsi berhasil mengatasi berbagai permasalahan tersebut, maka Mesir berhasil menjadi sintesis antara Islam dan demokrasi dalam proses dialektika sejarah. Seperti yang telah terjadi di Iran dan Turki, dengan warna yang pasti berbeda.

*Tulisan ini dimuat di http://www.suaraaceh.com/kolom/tulisan-kolom/opini/1630-mesir-sintesis-islam-dan-demokrasi.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 16, 2012 by in Kolom, Politik, Uncategorized and tagged , , , , , , .
%d bloggers like this: