Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Menjadi Aceh

Orang Aceh adalah orang yang bangga dengan etnisnya. Akan sangat terhina apabila ia dipanggil Jawa, Batak atau Padang. Merujuk seorang Aceh dengan sebutan suku lain (Jawa, Batak atau Padang) merupakan sebuah penghinaan karena sebutan ini sering kali diartikan sebagai hal yang negatif.

Hal ini melekat dalam masyarakat Aceh. Fakta sejarah berbicara bahwa Aceh sebagai sebuah entitas kebangsaan memang lebih superior dibanding dengan entitas suku-suku lain di Nusantara. Keberadaan penyebaran Islam yang berawal di Aceh, telah menjadikan Aceh sebagai pusat konsentrasi para pendatang dari Arab, Persia dan Gujarat. Para misionaris ini tidak hanya menyebarkan agama Islam, tetapi telah menjadikan Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Timur jauh. Mereka menetap di sepanjang pantai timur ujung pulau Sumatera, menghidupkan pelabuhan-pelabuhan di garis pantai sebagai wilayah perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Teluk Aden dan Selat Malaka. Pelabuhan-pelabuhan ini juga menjadi tempat berlabuh kapal-kapal yang ingin menuju ke wilayah Nusantara lainnya.

Ada beberapa catatan menarik yang mungkin menjadikan orang Aceh merasa superior dari suku-suku lain di wilayah Nusantara. Meskipun tidak sepenuhnya bisa menjadi alasan utama, paling tidak hal ini ada pengaruhnya.

Bagian yang tidak terlepas dari semangat superioritas orang Aceh adalah sejarah perbudakan. Memiliki budak merupakan hal yang lumrah pada masa itu. Budak yang paling disukai adalah orang Nias atau disebut ureueng Nieh. Mereka terkenal patuh dan penurut. Sementara budak dari suku Batak terkenal pendendam dan dianggap berbahaya bagi majikannya. Dalam beberapa kasus, mereka pernah membunuh majikannya. Bagi yang kaya, mereka mampu mendatangkan budak dari Afrika yang disebut orang Habsyi. Budak Habsyi terkenal memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Kepemilikan budak pada masa itu melambangkan status sosial, asal muasal budak tersebut mewakili kelas sosial si pemiliknya. Tidak heran jika sejarah perbudakan telah membentuk persepsi rendah kepada suku asal para budak, dengan berbagai stereotype negatifnya.

Kemajuan kesusasteraan Melayu sendiri tidak lepas dari peran Aceh. Hamzah Fanshuri, seorang ulama Tassawuf di daerah Fanshur (Singkil-Barus) merupakan nama yang tidak bisa dipisahkan dari kesusasteraan Melayu. Bahasa Melayu sendiri dipakai sebagai Lingua Franca di Nusantara pada masa itu. Meskipun Aceh memiliki bahasanya sendiri, tetapi bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan dalam Qanun Meukuta Alam, kitab undang-undang Aceh. Dua fenomena ini menjadikan kita sulit untuk menyimpulkan Aceh kah Melayu atau Melayu kah Aceh.

Perang melawan Portugis yang menguasai Malaka merupakan sejarah kegemilangan Aceh. Kisah ini menjadi kebanggan bagi masyarakat Aceh, sebuah kisah kepahlawanan yang diceritakan turun-temurun.
Kisah hubungan bilateral dengan kerajaan-kerajaan di Eropa, hubungan erat dengan Daulah Islamiyah Turki Utsmani, Perang Aceh dan sederet kisah heroik didalamnya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Apabila dibandingkan dengan sejarah keberadaan suku-suku yang mendiami wilayah disekitarnya, Aceh sebagai sebuah entitas kebangsaan yang berdaulat memang lebih superior.

Dalam sejarah kontemporer Aceh sebagai wilayah yang telah bergabung dengan Indonesia, superioritas Aceh terganggu dengan entitas nasionalisme Indonesia yang masih baru. Hal ini tidak serta merta timbul. Rakyat Aceh lebih dulu menunjukkan komitmen kesetiaannya untuk bergabung dengan Indonesia. Inilah yang menjadikan Aceh sebagai daerah “modal” bagi kemerdekaan Indonesia.

Jasa Aceh bagi kemerdekaan Indonesia dibuktikan dengan sumbangan rakyat Aceh untuk membeli pesawat terbang Indonesia pertama, Seulawah I dan Seulawah II. Rakyat Aceh juga ikut bertempur dalam Agresi Militer Belanda dalam pertempuran Medan Area. Dalam Konferensi Meja Bundar, argumen Sutan Syahrir yang menyatakan bahwa Aceh sebagai wilayah dari Indonesia secara de facto belum berhasil dikuasai Belanda. Meskipun hanya sebagian kecil dari wilayah Indonesia, Sutan Syahrir berdalih bahwa Aceh masih lebih besar dari Belanda. Argumen inilah yang kemudian memenangkan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar dan akhirnya Indonesia mendapat pengakuan sebagai sebuah negara.

Benturan identitas ini baru muncul ke permukaan ketika rakyat Aceh di bawah pimpinan Ulama kharismatik Teungku Muhammad Daud Beureueh memilih untuk memberontak dalam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Pemberontakan DI/TII yang melibatkan beberapa wilayah Indonesia saat itu sejalan dengan keinginan rakyat Aceh yang menginginkan penerapan syariat Islam, disamping kemarahan rakyat Aceh atas perlakuan tidak adil Jakarta yang memasukkan wilayah Aceh kedalam Provinsi Sumatera Timur. Sebagai daerah “modal” bagi kemerdekaan Indonesia, rakyat Aceh tidak terima atas perlakuan Jakarta yang dianggap tidak tahu balas budi.

Pemberontakan ini berakhir dengan sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Lamteh. Aceh menjadi sebuah Provinsi dengan nama Daerah Istimewa Aceh, sebuah provinsi yang memiliki keistimewaan dalam bidang agama, pendidikan dan budaya.

Jurang pemisah identitas antara Aceh dan Indonesia kembali menguak. Kali ini Hasan Tiro, keturunan dari Ulama kharismatik Aceh yang memegang mandat kekuasaan kerajaan Aceh untuk melawan penjajahan Belanda, Teungku Chik Muhammad Saman Ditiro, menggaungkan ideologi etno-nasionalime. Klaim sejarah atas kerajaan Aceh yang dianggap masih berdaulat dan klaim penjajahan Indonesia-Jawa atas Bangsa Aceh seolah mengembalikan perasaan Aceh sebagai bangsa yang berdaulat, berbeda dan dan tidak pantas tunduk dengan bangsa yang dianggap lebih rendah. Maka menjadi tidak mungkin bagi Bangsa Aceh untuk dikatakan bangian dari entitas nation-state Indonesia. Semangat kebangsaan Aceh lebih dahulu ada dan tidak layak tunduk dalam identitas kebangsaan lainnya.

****

Orang Aceh tidak pernah lepas dari kebanggaan masa lalu. Bagian sejarah yang terlalu indah untuk dilupakan. Tetapi sejauh mana kita harus terhanyut dalam romantisme masa lalu sementara orang Aceh sendiri lupa apa yang menjadikannya begitu digdaya di masa lalu.

Ketika sejarah Aceh telah begitu banyak dikupas oleh para ahli sejarah, menjadi kajian di universitas dan bahasan dalam seminar-seminar, saya mulai merenungi mengapa kita kita begitu hebat. Apakah karena perpaduan genetika yang begitu kompleks menjadikan kita ras yang teristimewa? Tentu pendapat semacam ini ditentang para eksistensialis yang menganggap tidak ada ras yang lebih unggul dari ras lain.

Kompleksitas ras dalam masyarakat Aceh mungkin mendukung kemajuan peradaban, bukan dalam pandangan keunggulan genetika. Sebagai wilayah pelabuhan yang kosmopolit, tempat berinteraksinya berbagai suku bangsa yang kemudian mendiami wilayah ujung Sumatera ini telah membangun sebuah peradaban dari berbagai interaksi budaya-budaya luar yang dibawa.

Saya teringat tentang sebuah buku karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad berjudul Acehnologi. Dalam karya ini ia membahas bagaimana masyarakat Aceh terbentuk dengan spirit keislaman didalamnya. Sejalan dengan datangnya para saudagar Islam, mereka juga para missionaris yang berdakwah secara sistematis. Ajaran Islam mulai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Aceh yang disebarkan melalui pendekatan tasawwuf. Mulai tumbuh dayyah-dayyah sebagai pusat pendidikan ajaran Islam. Dalam masyarakat pun, para ulama ini menjadi tokoh sentral di tengah-tengah masyarakat, sebagai panutan dan tempat bertanya untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada.

Para Ulama sufi ini telah mencapai tahap hakikat dalam perjalanan spiritualnya. Dalam menjawab berbagai persoalan, mereka telah bergerak melaui pendekatan ilmu dari epistemologi bayyani dan burhani hingga ke tahap irfani. Artinya mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dari Allah secara langsung, mereka telah mencapai tahap hakikat dan proses penerimaan ilmu didapat secara spiritual melalui berbagai ritual-ritual kesufian yang mereka lewati.

Ilmu pengetahuan “langit” yang mereka dapatkan, dibahasakan ke bahasa manusia dan orang awam. Inilah kemudian yang melahirkan norma-norma dalam masyarakat Aceh yang merujuk pada para Ulama yang telah mencapai tahapan hakikat tersebut. Maka bisa dikatakan hukum tak tertulis dalam masyarakat Aceh yang telah membentuk pola-pola kehidupan masyarakat yang didapat dari proses semacam ini telah membentuk sebuah budaya irfani. Inilah yang kemudian menjadi dasar spirit keislaman masyarakat Aceh.

Dari bacaan ini saya berkesimpulan bahwa orang Aceh dalam perspektif saya bukanlah seorang yang pemberani yang tak takut menghadapi musuh di medan perang. Bukankah berkobarnya perang Aceh tidak terlepas dari bagian menunaikan kewajiban dalam agama Islam yaitu berjihad? Jihad melawan Belanda juga tidak terlepas dari dorongan Ulama Aceh yang saat itu mengobarkan perlawanan melalui Hikayat Prang Sabi, berperang di jalan Allah. Bahkan pada masa perlawanan GAM, Hikayat Prang Sabi masih eksis dalam sebuah lagu yang diubah liriknya.

Sebuah proses penggalian nilai-nilai keacehan adalah dengan menemukan kembali akar budaya yang sudah jauh terkubur didalam tanah, menumbuhkan kembali batang dalam akar tersebut yang terimplimentasi dalam kehidupan sosial masyarakatnya melalui pucuk spirit keislaman yang bersifat bathiniyah.

Bagi saya, menjadi Aceh tidak terlepas dari menepuh jalan spiritual melalui jalan tasawwuf. Menemukan kembali jalan penghubung antara Tuhan dan penciptanya, yang teraplikasikan dalam sebuah tatanan masyarakat yang berdasar pada tradisi budaya Irfani. Rasa superioritas yang tumbuh justru merupakan benalu yang mampu mengahcurkan spirit keacehan itu sendiri.

Advertisements

3 comments on “Menjadi Aceh

  1. rezaafalevii@wordpress.com
    June 9, 2012

    dengan kekuatan rabbani tidak ada ketakutan yang bersemayam dalam jasad seorang hamba, melainkan ruh jihad yang terus berkorban melalui sepotong ayat la takhaf wa latahzan

  2. anwar kreatif
    September 27, 2012

    aceh tak pernah runtuh.aceh tak pernah kalah dalam menghadapi masalah yang ada.karna ALLAH telah menyertai orang2 aceh.amin..

  3. abu muhammad alfansuri
    January 2, 2013

    Allah melaknat orang aceh keturunan yahudi parsi..di dunia dan akhirat…kalian kaum yang diberitakan dalam hadist rasulullah akan dikutuk menjadi kera ketika mati…dan akan menjadi anjing-anjing neraka ketika dicampakkan dalam neraka jahannam kelak..amiiin ya rabbal ‘alamin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 8, 2012 by in Catatan Lepas, Sosial Budaya.
%d bloggers like this: