Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Mengubah Tradisi Masyarakat Aceh

Melihat dinamika politik yang terjadi akhir-akhir ini di Aceh, terjadi  konflik antar elit politik yang semakin memanas menjelang pemilukada dan dikhawatirkan akan merembes ke masyarakat. Pemilukada sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan demokrasi yang diharapkan melahirkan pemimpin  yang mampu membawa Aceh ke arah kesejahteraan bukan  Pemilukada yang malah melahirkan konflik baru di tengah-tengah masyarakat yang ingin  menjaga perdamaian di bumi serambi mekkah.

Potensi konflik yang ada di masyarakat sebenarnya adalah konflik di tataran elit yang mencoba “meupeseu uem” atau memanas-manasi masyarakat dengan tujuan mendapat dukungan dari masyarakat. Mereka tidak sadar bahwa hal semacam itu bukan memeberikan kesejahteraan bagi masyarakat justru membawa konflik itu ke ranah yang lebih luas dan konflik yang lebih besar. Inilah tradisi yang dibentuk hari ini dengan menumbuhkan kebencian di tengah-tengah masyarakat terhadap kelompok lain yang berseberanagan.

Potensi konflik yang ada kedepan dapat diminimalkan dengan mengubah tradisi yang ada dalam masyarakat, yaitu tradisi yang mengkotak-kotakkan. Tradisi yang melihat perbedaan sebgai suatu bencana dan cenderung tidak toleran terhadap individu ataupun kelompok yang berbeda secara ras maupun pemikiran. Tradisi ini sangat bertentangan dengan tradisi jaman kerajaan Aceh dimana pada jaman itu Aceh sangat terbuka dengan dunia luar, dengan perbedaan ras dan pemikiran. Pengaruh konflik dengan bangsa lain melahirkan sifat prejudice pada watak orang Aceh . Bahkan pemikiran  yang dianggap tidak “Aceh” ataupun datang dan berasal dari luar dianggap suatu yang berbahaya karena tidak dilihat secara objektif. Ini tentu bertentangan dengan tradisi Aceh masa lalu yang sangat terbuka dan menghargai perbedan sehingga terciptalah sebuah kebudayaan yang maju, kebudayaan yang mengadopsi nilai-nilai modern yang positif yang tentunya tidak berseberangan dengan ajaran Islam (Alquran dan Hadist) sebagai landasan kehidupan orang Aceh.

Perlu kiranya kita merubah tradisi yang ada sperti dijelaskan diatas, karena  tradisi semacam itu  akan menghancurkan kebudayaan Aceh sendiri yang sebenarnya sudah jauh lebih maju pada masa kejayaan kerajaan Aceh dulu.  Mengutip pendapat Giddens tentang sifat tradisi sendiri, Giddens menilai bahwa tradisi yang ada sekarang perlu ditata ulang karena tradisi bukan sesuatu yang terberi melainkan suatu yang diciptakan. Tidak sepenuhnya masyarakat tradisional  yang sepenuhnya tradisional dan tradisi dan adat istiadat diciptakan karena berbagai alasan (Runaway World,2001:37). Perubahan tradisi dalam konteks keAcehan tentunya harus mempertimbangkan aspek-aspek keislaman. Mengingat Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh. Perubahan-perubahan yang  ada sudah pasti tidak boleh bertentangan dengan Alquran dan Hadist. Di satu sisi kita melihat bahwa tradisi harus diubah, tetapi di sisi yang lain perubahan itu bisa dilihat seperti berpaling kembali kepada nilai-nilai keAcehan yang berjalan seiring dengan keislaman yang selama ini terlupakan atau mungkin sengaja dilupakan.

Masih dalam upaya perubahan tradisi atau lebih tepat disebut upaya memperbaiki tradisi, Selain nilai keAcehan dan keislaman, nilai demokrasi juga tidak kalah pentingnya untuk dimasukkan kedalam agenda perubahan tradisi agar masyarkat sendiri terbiasa dengan proses demokrasi  dan lebih melihat proses-proses demokrasi seperti Pemilukada sebagai bagian dari demokrasi yang bertujuan memilih pemimpin yang capable dalam menjawab tantangan zaman  demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan.Ini menjadi tugas penting bagi pemimpin kedepan dalam memasukkan nilai-nilai demokrasi di tengah-tengah masyarakat dengan  lebih melibatkan masyarakat bukan hanya dalam proses elektoral tetapi juga dalam pengambilan keputusan sehingga lahirnya kepercayaan politik kepada pemerintah dan negara  pada khususnya dan kepuasan terhadap demokrasi sendiri. Jika nilai-nilai demokrasi tidak dimasukkan dalam tradisi kita, maka demokrasi dalam prosesnya pun akan tersendat dan melahirkan konflik.

Marilah kita mengubah tradisi yang ada dalam masyarakat dengan mengimplementasikan elemen-elemen dari nilai-nilai keAcehan, keislaman dan demokrasi, sperti yang sudah dijelaskan, kesemua aspek-aspek ini memiliki kesamaan prinsip dalam mengahrgaai keberagaman, menghargai perbedaan pendapat, dan melihat perbedaan sebagai suatu rahmat, bukan menjadikannya dasar perpecahan yang mengarah kepada pertikaian.

Masyarakat hendaknya berpikiran positif terhadap perubahan dan jangan berusaha menutup diri terhadap perubahan. Perubahan dilakukan juga atas usaha melindungi tradisi-tradisi yang ada dengan upaya mengembangkannya. Perubahan terhadap tradisi dengan menerapkan nilai-nilai keAcehan, keislaman dan demokrasi tentunya dapat menciptakan masyarakat Aceh yang islami dan modern, perubahan tradisi ini diharapkan mampu memelihara kehidupan berdemokrasi yang terhindar dari konflik dan membawa kearah kesejahteraan dan kemakmuran.

Artikel ini dimuat di Harian Aceh dengan judul “Mengubah Tradisi Politik Aceh”, 4 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Politik, Sosial Budaya, Uncategorized and tagged , , , , .
%d bloggers like this: