Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Kelas Menengah: Mesin Sosial untuk Perubahan

Dalam catatan sejarah di berbagai belahan dunia, kelas menegah memainkan perannya dalam perubahan. Dalam sejarah Revolusi Prancis, kelas menengah yang dikenal dengan nama kaum borjuis, telah berhasil menggulingkan pemerintahan monarki yang didominasi olah kaum aristokrat. Dengan semangat liberte, egalite, freternite (kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan), peristiwa yang dikenal dengan nama Revolusi Prancis ini berhasil meruntuhkan kekuasaan kaum aristokrat dibawah kepemimpinan monarki Louis XVI.

Revolusi ini bertumpu pada semangat liberalisme, kebebasan yang menitikberatkan pada kesetaraan. Menentang berbagai bentuk absolutisme pemerintahan yang merugikan rakyat. Semangat revolusi Prancis menjadi momentum  bagi implementasi demokrasi dan kebebasan politik yang wujud dalam kebebasan berpendapat. Dalam perspektif ekonomi, liberalisme menjadi dasar bagi hak kepemilikan individu. Konsep liberalisme sendiri menjadi dasar pemikiran kaum borjuis yang menentang besarnya pajak atas kepemilikan properti mereka yang dibebankan oleh kaum aristokrat.

Di Indonesia sendiri, perjuangan melawan kolonialime juga digerakkan oleh kelas menengah. Sebut saja Sarekat Islam. Kelompok pedagang Islam ini dibentuk oleh H. Samanhoedi dengan tujuan untuk melindungi para pedagang Islam dalam persaingan perdagangan batik di Jawa. Dibawah kepemimpinan HOS. Cokroaminoto, SI menjadi kelompok yang mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan kelompok kelas menengah melawan kolonialisme juga diwakili oleh intelektual muda yang mengenyam pendidikan di Belanda. Beberapa dari mereka adalah Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Moh. Yamin dan Mr. Mohammad Hasan.

Peristiwa terkini seperti reformasi juga didalangi kelompok kelas menengah. Kaum intelektual, mahasiswa dan akademisi di satu sisi sebagai kelompok yang bergerak melawan rezim Soeharto dengan kesadaran politik dan berbasis ideologi. Kelompok pebisnis yang kemudian ikut memainkan peran mereka dalam bantuan logistik jelang aksi reformasi ’98 di sisi lain, juga ikut berperan. Faktor yang mengikutsertakan mereka lebih kepada faktor ekonomi. Sebagian pebisnis merasa dianaktirikan oleh Soeharto karena rezim Orde Baru hanya menguntungkan sebagian kelompok pebisnis.

Memahami Karakter Kelas Menengah

Kita bisa memahami karakter kelas menengah dari berbagai peristiwa, khususnya reformasi di Indonesia. Kelas menengah memiliki dua karaker.

Pertama, kelas menengah yang mengenyam pendidikan relatif tinggi/kaum terdidik. Mereka biasanya adalah akademisi; dosen maupun mahasiswa. Memiliki kesadaran politik yang tinggi, idealis, berpegang pada prinsip dan nilai demokrasi dan berorientasi pada perubahan. Memiliki basis kekuatan di Universitas dan pusat-pusat studi.

Kedua, kelas menengah yang bergerak dalam bidang ekonomi/pebisnis. Mereka memiliki kemandirian secara finansial, bermata pencaharian dari sektor swasta, memiliki kekuatan berupa modal. Secara politik mereka berpikir dan bertindak secara pragmatis, kepentingan akan keberlangsungan bisnis mereka menjadi orientasi dari tindakan dan sikap politik mereka.

Dibalik beberapa perbedaan yang dimiliki antar kedua varian kelas menengah ini, mereka memiliki beberapa persamaan. Kelas menengah memiliki kemandirian yang menjadi senjata mereka. Kemandirian ini memberikan kebebasan mereka dalam mengkritisi setiap kebijakan pemerintah. Mereka memiliki keleluasaan dalam menentukan sikap politik dan juga mampu membentuk opini publik dengan cara masing-masing dan kekuatan yang berbeda-beda pula. Kemandirian secara finansial menjadikan mereka mapan secara ekonomi, yang akhirnya memberikan ruang bagi mereka untuk beropini dan bersikap secara politik. Kematangan secara ekonomi memberikan ruang untuk menuntut hak-hak politik.

Kelas Menengah dan Perubahan di Aceh

Ada apa dengan kelas menengah di Aceh? Mengapa tidak ada pergerakan perubahan yang digerakkan oleh kelas menengah di Aceh? Kelas menengah di Aceh terkesan diam, statis, melempem.

Perlu diketahui hampir tidak ada sektor usaha yang mandiri di Aceh. Ini disebabkan minimnya sektor usaha yang mampu menghasilkan pendapatan bagi masyarakat yang bersumber dari modal luar seperti komoditas ekspor ataupun komoditas lain yang dijual ke luar daerah, juga minimnya penenanaman modal asing di Aceh. Ini meneyebabkan masyarakat sangat bergantung dari APBA karena uang yang berputar di Provinsi Aceh hanya bersumber dari pendapatan daerah.

Ditambah lagi dengan jumlah kelas menengah yang berprofesi sebagai pekerja konstruksi dan jasa proyek lainnya. Para kontraktor ini merupakan jajaran orang kaya di Aceh. Pendapataannya jelas-jelas bergantung dari sumber dana APBA, sebanyak apa dana yang dialokasikan untuk pekerjaan konstruksi, sebesar apa tender proyek yang tersedia setiap tahunnya.

Para kontraktor sangat bergantung dari pimpinan Kepala Daerah maupun SKPA di kabupaten/kota maupun Provinsi. Tidak jarang praktek KKN dijalankan untuk memenangkan tender, hal seperti ini menjadikan mayoritas kelas menegah di Aceh tidak memiliki karakter independen dan berusaha untuk melanggengkan status quo guna kepentingan usahanya.

Interdependensi antara pemerintah dan kontraktor telah dibangun menjadi sebuah sistem yang saling bergantung dan menguntungkan. Pelanggengan status quo menjadi tujuan kelompok kontraktor dalam kelas menengah guna kelangsungan bisnisnya. Hal ini tentu telah mematikan kebebasan mereka dalam beropini dan bersikap secara politik. Dalam keadaan seperti ini, kelas menengah tidak akan mampu bangkit dan berperan sebagai lokomotif perubahan.

Sementara gerakan sosial pun tidak mampu secara masif digerakkan oleh kelompok intelektual. Para mahasiswa sebagian apatis, sebagian lagi yang kritis terlalu terbuai dengan langgam politik mainstream sehingga gerakan mereka seolah terseret arus politik para elite. Para dosen jarang menyuarakan budaya kritisme pada mahasiswa dalam kuliahnya. Entah kenapa dosen sekarang kadang lebih apatis dari mahasiswa. Mungkin gaji yang sedikit membuat mereka tidak terlalu peduli untuk merekonstruksi perubahan bersama mahasiswa di kampus, sehingga mereka lebih banyak mencari sampingan di luar untuk kebutuhan mereka.

Kemandirian Ekonomi Untuk Perubahan

Demi menciptakan kelas menengah yang mampu menciptakan perubahan, maka hal yang pertama kali dilakukan adalah: menciptakan masyarakat kelas menengah yang mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kesadaran politik melalui peningkatan jenjang dan kualitas pendidikan.

Dengan menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi, tidak bergantung kepda pemerintah, maka golongan masyarakat ini akan mampu memainkan peran politiknya untuk mengkritisi kebijakan yang diambil pemerintah. Kesadaran politik yang didapat melalui pendidikan dan didorong oleh kelompok intelektual, jika dipadukan dengan kelompok yang mandiri secara ekonomi ini, akan mendorong mereka untuk tergerak dalam menciptakan perubahan.

Pada akhirnya, ketidakadilan yang dipraktikkan oleh pemerintah dalam menganakemaskan sebagaian kelas menengah yang terus-menerus diuntungkan oleh alokasi dana proyek serta permainan didalamnya akan dilawan oleh kelompok kelas menengah baru ini.

Keberpihakan anggaran pada kontraktor manja yang memperkaya mereka dan orang-orang di dalam pemerintahan ini bisa menjadi sebuah titik awal pergerakan perubahan di Aceh. Ketika masyarakat yang mandiri secara ekonomi memiliki kesadaran politik, terlebih lagi kebijakan pemerintah yang merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain masih ada, maka pergerakan untuk perubahan akan terjadi.

Dalam konteks Aceh hari ini, membangkitkan sektor usaha mandiri dan peningkatan kesadaran politik melalui pendidikan politik merupakan awal dari perubahan secara menyeluruh. Dengan terbentuknya kelas menegah dengan ciri-ciri tersebut, maka tercipta juga sebuah mesin sosial dalam menciptakan perubahan.

Artikel ini dimuat di: fisip-aceh.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Politik, Sosial Budaya and tagged , , .
%d bloggers like this: