Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Kebangkitan Turki, Kebangkitan Islam?

Oleh : Jabal Ali Husin Sab

Turki adalah sebuah negara yang terletak diantara benua Asia dan benua Eropa. Negara yang terletak di Semenanjung Anatolia dan berbatasan juga dengan Laut Hitam ini mewarisi kekayaan budaya Eropa dan tradisi Islam. Kerajaan Turki Usmani merupakan warisan sejarah terbesar bagi Turki dimana kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada, menjadi Daulah Islamiah yang menghimpun seluruh wilayah Islam di dunia.

Kota konstantinopel yang pernah menjadi pusat kerajaan Bizantium atau Roma Timur berhasil direbut oleh Turki Usmani, peninggalan berupa bangunan gereja yang dikenal dengan Haga Sophia dijadikan masjid yang menjadi kebanggaan umat Islam hingga saat ini. Bangunan dengan nilai arsitektur begitu tinggi yang memiliki kubah khas berwarna biru muda masih menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Istanbul, Turki.

Kejatuhan dinasti Islam Turki Usmani akibat krisis ekonomi yang menimpa dan semakin sempitnya wilayah kerajaan pasca Perang Dunia I menjadi awal kebangkitan Nasionalisme Sekuler di Turki di bawah Mustafa Kemal Attaturk. Pada tahun 1923 negara sekuler Turki berdiri. Tradisi Islam benar-benar dihapuskan, segala bentuk-bentuk simbol keislaman digantikan dengan simbol-simbol berbau barat seperti cara berpakaian, pelarangan pemakaian Tub-topi khas Turki, bahkan implementasi negara sekuler ini pada tataran ekstrim melarang adzan dalam bahasa Arab dan menggantikannya dengan bahasa Turki.

Dari Negara Sekuler-Otoriter ke Negara Religius-Demokratis

Turki dibawah pemerintahan sekuler sangat identik dengan otoritarianisme. Militer menjadi pelindung bagi Sekularisme Turki dan perannya dalam politik sangatlah besar. Keterlibatan militer dalam politik akhirnya membawa Turki menjadi negara sekuler-ototiter. Berkali-kali politik Turki harus berhadapan dengan arogansi militer yang mengontrol interaksi sosial seperti ekonomi, pendidikan dan politik (Saidiman Ahmad: 29 september 2007). Militer Turki melakukan kudeta sebanyak empat kali sejak 1960 demi menjaga sekulerisme Turki yang dicita-citakan oleh Kemal Attaturk.

Adalah Partai Keadilan dan Pembangunan yang mengawali terbukanya era demokrasi di Turki dengan memperkuat legitimasi pemerintahan sipil sejak kemenangannya dan terpilihnya Ketua Partai AKP, Recep Tayyib Erdogan sebagai Perdana Menteri pada tahun 2002, disusul terpilihnya Abdullah Gul sebagai Presiden Turki.

Erdogan secara perlahan berhasil membatasi wewenang militer dalam politik dengan mereformasi militer dan pemecatan sejumlah perwira tinggi militer yang diduga berencana melakukan kudeta pada tahun 2010. Dia juga mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga demokratis. AKP yang dikenal sebagai Partai Islam ini telah dianggap sebagai musuh sekulerisme oleh kalangan sekulerisme dan secara perlahan mengurangi nilai-nilai sekuler di Turki dan mengembalikan nilai-nilai dan tradisi Islam. Kebijakan seperti menaikkan pajak minuman keras menjadi salah satu negara dengan pajak minuman keras di Eropa merupakan cara halus Turki mengembalikan nilai-nilai keislaman yang perlahan tapi pasti semakin mengikis tradisi sekuler Turki.

Kepercayaan rakyat Turki yang begitu besar terhadap pemerintahnya, selain karena faktor tradisi Islam yang tidak benar-benar hilang dalam kultur masyarakat, juga tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah Turki dalam bidang ekonomi. Sejak 2002, gross domestic bruto (GDP) Turki yang hanya 230 milyar dolar, meningkat mencapai angka 742 milyar dolar pada tahun 2008. Total eksport Turki dari 32 milyar dolar, kini sudah mencapai 132 milyar dolar, sejak kekuasaan di pegang Partai AKP, ini adalah keberhasilan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Tidak hanya itu, pemerintah Turki, yang dipimpin Erdogan itu, berhasil menekan inflasi, yang sebelumnya inflasi mencapai 30 persen, kini hanya tinggal 5.7 persen (www.eramuslim.com). Laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 mencapai 8,9 persen (Komisi Eropa,2010).

Sektor swasta berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi Turki. Sistem ekonomi bebas lah yang menjadi kunci keberhasilan Turki yang berhasil lepas dari peran sekuler-militer dalam bidang ekonomi. Menurut M. Hakan Yavuz, Opportunity Spaces, Identity, and Islamic Meaning in Turkey, para pendukung pasar bebas di Turki tidak datang dari kalangan sekuler, melainkan dari kalangan Islam yang secara tradisional masih menjaga seluruh stradisi ritual agama.

Kalangan sekuler tidak mendukung gagasan ekonomi liberal (bebas) karena mereka adalah pemegang kekuasaan kontrol ekonomi melalui militer. Kalangan swasta Turki menganggap bahwa pasar bebas sesuai dengan prinsip Islam, yang memberi ruang kebebasan perdagangan antar negara. Hakan Yafuz menyebut fenomena ini dengan istilah The Islamic Ethics and The Spirit of Capitalism (sebagai perbandingan dengan karya klasik Max Weber, The Protestan Ethics and The Spirit of Capitalism).

Peran Turki ditingkat regional maupun global

Turki memainkan peran besar di tingkat regional maupun global, Turki membangun hubungan kerjasama yang baik dengan negara-negara Asia seperti Cina dan Iran. Salah satunya dalam membahas masalah Afganistan. Selain mengembangkan sayap ke Eropa, Turki juga menjalin hubungan yang baik dengan negar-negara di Asia dan di wilayah Timur Tengah.

Turki secara gamblang mendukung pembentukan negara Palestina dalam pembahasannya di PBB. Tentu kita juga tidak lupa dengan peristiwa Mavi Marmara, kapal bantuan kemanusiaan Turki yang mengirim bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dan dalam perjalanannya diserang oleh Israel. Penyerangan ini berbuntut ketegangan hubungan antar kedua negara dan menjadi salah satu faktor pemutusan hubungan diplomatik antara Turki dan Israel.

Dalam menanggapi revolusi yang sedang terjadi di Timur Tengah, Turki dengan cepat memainkan manuvernya. Turki berniat membentuk “Axis of Democracy” yang mengikat kerjasama antar negara-negara pasca revolusi seperti Mesir, Tunisia dan libya. Turki mendukung penuh demokratisasi di kawasan Timur Tengah dan dengan tangan terbuka dan bersedia kerjasama dalam berbagai bidang dengan negara-negara tersebut.

Dengan pengaruh yang begitu luar biasa yang dimiliki Turki baik dalam hal ekonomi dan politik di tataran global menjadikan Turki sebuah kekuatan baru dunia yang diperhitungkan. Usaha-usaha demokratisasi yang disponsori Turki menjadi sebuah gambaran baru bagaimana Islam dipraktekkan secara modern. Kedepan akan menjadi pertimbangan apakah Turki bisa menjadi role model bagi negara-negara Islam lainnya atau bahkan bisa membantu dan mewakili kepentingan umat Islam seluruh dunia.

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala dan Pegiat di IDEAS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Politik and tagged , .
%d bloggers like this: