Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Demokratisasi dan Potensi Konflik di Timur Tengah

Oleh : Jabal Ali Husin Sab*

Konflik di Timur Tengah merupakan sebuah tradisi politik yang diwariskan ribuan tahun yang lalu. Pengaruh agama, mazhab, suku bangsa dan pemikiran telah melatarbelakangi konflik di kawasan ini. Sejak bersatunya jazirah Arab di bawah kekuasaan Islam, konstelasi politik yang dipengaruhi  faktor-faktor tersebut sudah muncul.

Pada zaman kekhalifahan misalnya, perbedaan mazhab sunni-syiah melatarbelakangi konflik yang tidak pernah terselesaikan sampai hari ini. Runtuhnya dinasti Abasyiah yang notabene merupakan dinasti Islam terbesar dibawah kekuasaan suku Arab telah memberikan ruang kekuasaan baru bagi suku non Arab seperti Turki dan Persia, hal ini melatarbelakangi terbentuknya dinasti Seljuk yang merupakan dinasti dibawah kepemimpinan orang-orang keturunan Turki. Jazirah Arab sempat lama terpecah belah oleh konflik multi faktor ini.

Terhimpunnya jazirah Arab dan seluruh wilayah Islam dalam sebuah bentuk Daulah Islamiyah kembali terjadi dibawah kekuasaan Dinasti Turki Usmani, kekuasaan berpusat di Istanbul dibawah pemerintahan seorang Sultan berkebangsaan Turki.Wilayah kekuasaan Turki Usmani membentang sampai ke Eropa.

Keikutesertaan Turki dalam Perang Dunia ke I telah mengubah peta wilayah kekuasaan Turki sekaligus melemahkan kekuatan Turki. Wilayah kekuasaan di Eropa mulai melepaskan diri dan Turki terbelit dalam lilitan krisis ekonomi.

Dalam lilitan krisis ekonomi, Turki Usmani juga mengalami pemberontakan oleh bangsa Arab yang mulai tumbuh semangat nasionalismenya. Semangat nasionalisme ini dimotori oleh Negara-negara Barat seperti Inggris dan Prancis yang berusaha  menanamkan pengaruh imperialismenya di kawasan Timur Tengah. Inggris dan Perancis sempat memegang kedaulatan di kawasan Timur Tengah dan kedua negara inilah yang kemudian memetakan kembali negara-negara Timur Tengah menjadi wilayah yang terdiri dari banyak negara.

Hancurnya Turki Usmani yang tergerak oleh paham Barat berupa Nasionalisme telah memecah belah kawasan itu. Mustafa Kemal At Taturk, seorang Turki yang berhasil membubarkan Dinasti Turki Usmani kemudian berhasil mendirikan negara bangsa Turki dengan paham sekulerismenya.

Jazirah Arab juga terpecah belah menjadi negara-negara bangsa . Di wilayah semenanjung Arabia terbentuk negara Arab Saudi yang lahir dari semangat nasionalisme Arab dan pengaruh ajaran Wahabi, ajaran yang dibawa oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab yang mengajarkan tentang pemurnian Islam yang menjadi legitimasi spiritual kepemimpinan keluarga Ibnu Saud dalam mendirikan kerajaan Arab Saudi sekaligus menyingkirkan Syarif Hijaz, penguasa wilayah semenanjung Arab dibawah kekuasaan Turki Usmani.Kedua putra dari Syarif Hijaz inilah yang kemudian mendirikan kerajaan Jordania dan kerajaan Irak (yang kemudian digulingkan oleh Saddam Husein).

Dari penjelasan diatas dapat dibayangkan perjalanan politik di kawasan Timur Tengah penuh dengan konflik yang dilatarbekangioleh beberapa faktor, diantaranya seperti yang sudah dijelaskan diatas. Konflik baru yang dilatarbelakangi oleh pemikiran baru dari barat seperti nasionalisme telah mengubah peta kawasan. Setelah terbentuknya Nation-State yang membagi-bagi kawasan Timur Tengah, konflik tidak begitu saja berakhir.

Pemerintahan Monarki-Islam berusaha digantikan dengan pemerintahan Republik-Sekuler. Hal ini terjadi dengan jelas di Irak oleh Saddam Husein dan Mesir, kemudian Libya oleh Muammar Ghaddafi. Negara-negara baru seperti Mesir dan Irak yang cenderung sekuler, Libya yang juga menganut paham sosialis barat yang dipadukan dengan semangat nasionalisme dan semangat keislaman telah mengubah corak negara-negara di kawasan dengan berlatarkan pemikiran-pemikiran Barat.

Konflik di kawasan Timur Tengah tidak berhenti sampai disini, disamping masalah kesejahteraan, masalah-masalah baru yang timbul dari corak kepemimpinan diktator yang otoriter juga menjadi masalah baru di kawasan. Negara-negara Arab dipimpin oleh para diktator otoriter yang memiliki corak kekuasaan terpusat, dibawah kepemimpinan mereka  tidak ada kebebasan berpendapat, korupsi yang merajalela serta masalah kesejahteraan yang belum terpenuhi. Hal ini yang kemudian membuat rakyat di negara-negara tersebut menuntut diterapkannya demokrasi demi sebuah kehidupan yang lebih baik.

Hal ini yang kemudian melatarbelakangi timbulnya gerakan sosial yang masif dalam kurun tahun 2011. Diawali dari demonstrasi besar-besaran di Tunisia yang berhasil menggulingkan rezim Ben Ali, demonstrasi ini menjadi pelopor lahirnya gerakan sosial lainnya di beberapa negara Arab yang dikenal dengan Arab Spring, sebuah gerakan sosial yang berupaya menurunkan rezim-rezim diktator yang korup dan otoriter.

Arab Spring manjadi harapan baru bagi tegaknya demokrasi, yang dipercaya mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Pemerintahan yang demokratis juga menjadi harapan bagi masyarakat demi menghapuskan tradisi politik penuh konflik yang mewarnai perjalanan sejarah kawasan Timur Tengah.

Sebuah kerja besar yang harus dilakukan dalam proses transisi demokrasi adalah melengkapkan instrumen-instrumen demokrasi dengan melaksanakan pemilihan langsung yang fair secara gradual, mengamandemen konstitusi dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, demiliterisasi, reformasi birokrasi dan memastikan terciptanya sistem politik yang berdasarkan pada mekanisme check and balance. Proses konsolidasi juga diperlukan dalam merekonsiliasi berbagai kelompok yang dulunya terlibat dalam konflik untuk bersama-sama membangun sistem politik yang sehat dengan mengarahakan berbagai kepentingan yang ada dalam sebuah kompetisi demokrasi.

Dengan upaya-upaya demokratisasi diharapkan akan terbangun sebuah pemerintahan yang benar-benar mewakili suara rakyat. Proses demokratisasi diharapkan akan meminimalisir potensi konflik di negara-negara di kawasan. Potensi konflik  yang dilatarbelakangi oleh faktor klasik seperti agama, mazhab, suku ataupun pemikiran dapat direduksi dengan penerapan demokrasi dan kepentingan yang berbeda dapat diartikulasikan melalui sistem pemerintahan yang demokratis.

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Politik FISIP Unsyiah, pegiat di IDEAS.

Artikel dimuat di: ideas-aceh.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Politik and tagged , , .
%d bloggers like this: