Muhibbin

The pain itself is enough to heal the wounded soul..

Darurat Ekonomi Syariah

UNDANG-UNDANG Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mengawali implementasi Syariat Islam di Aceh. Pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah masih jauh dari harapan, selama pemerintah bersama institusi penyelenggara Syariat Islam hanya terfokus pada penanganan masalah khamar (minuman keras), maisir (judi) dan khalwat (mesum).

Sebagai umat muslim, tentunya kita percaya bahwa Syariat Islam merupakan aturan-aturan Ilahi yang pastinya membawa kebaikan dunia dan akhirat. Syariat Islam bertujuan mewujudkan keadilan dan kemuliaan manusia, mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan antar sesama manusia. Hal ini yang menjamin kemaslahatan kehidupan manusia.

Islam sebagai sebuah agama yang manusiawi, menginginkan kehidupan manusia yang berkualitas. Tidak hanya menciptakan aturan untuk melahirkan individu yang bermoral dan beretika, Islam juga menginginkan kehidupan manusia yang berkualitas dan mapan dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, aturan-aturan dalam perekonomian juga diatur dalam Islam untuk menciptakan kehidupan umat yang kuat secara ekonomi. 

Berbicara tentang sistem ekonomi Islam dan situasi pasar global, ada sebuah fenomena menarik. Hal ini perlu dicermati guna mempertimbangkan sistem ekonomi berbasis syariah dan mengapa sistem ini menjadi begitu istimewa.

Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia dan pasar global, aset keuangan yang berbasis ekonomi syariah telah tumbuh dari sekitar lima miliar dollar AS pada akhir 1980-an menjadi sekitar 1,2 triliun dollar AS pada 2011. Sistem yang memiliki keistimewaan pada pengaturan bagi hasil atas keuntungan dan pembagian resiko antara pemodal dan klien ini berhasil terlepas dari krisis yang dimulai sejak tahun 2008.

Dalam “Laporan Perbankan Islam Global” yang diterbitkan pada November 2011, Deutsche Bank memproyeksikan laju pertumbuhan tahunan gabungan aset keuangan Islam sebesar 24 persen dalam tiga tahun mendatang. Menurut Direktur Pelaksana Bank Dunia Mahmoud Mohieldin,proyeksi inimemiliki berbagai alasan seperti: Sistem keuangan Islam memberikan alternatif praktis bagi penabung dan investor terhadap instrumen konvensional, meningkatnya kualitas layanan keuangan Islam dansesuai dengan kode moral dan hukum Islam (Project Syndicate 2012).

Dengan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh yang sudah berlangsung sekian lama, sudah seharusnya pelaksanaan kebijakan ini memasuki ranah ekonomi. Penerapan ekonomi syariah merupakan upaya pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah dan jalan alternatif bagi usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat yang masih belum terealisasi dengan baik.

 Bank Aceh dengan Sistem Syariah
Upaya ini dapat dimulai melalui kebijakan pemerintah mengubah sistem perbankan Bank Aceh dari sistem konvensional ke sistem perbankan Islam. Bank Aceh sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang selama ini menampung aset kekayaan Pemerintah Aceh, bertanggungjawab terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Pemerintah Aceh dan masyarakatnya, Bank Aceh juga tidak boleh terlepas dari pelaksanaan Syariat Islam. Maka, tidak ada alasan bagi Bank Aceh untuk tidak terlibat dalam pelaksanaan Syariat Islam, dalam hal ini dengan cara mengubah sistem perbankan konvensional menjadi sebuah Bank dengan sistem keuangan Syariah.

Kinerja Bank Aceh selama ini kurang memuaskan. Berdasarkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Bank Aceh per November 2011 aset Bank Aceh mencapai angka 12 triliun rupiah dengan keuntungan yang diraih kurang lebih 265 miliar (Bank Indonesia, 2011). Kepemilikan aset yang begitu besar belum mampu mendongkrak perekonomian daerah. Dana melimpah yang tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal ini seharusnya bisa membantu masyarakat golongan ekonomi lemah dan menengah dalam bentuk kredit produktif dengan menyediakan modal bagi usaha kecil dan menengah.

Hal ini berbanding terbalik dengan prestasi yang didapat oleh Bank Aceh Syariah yang mendapat penghargaan sebagai Bank Syariah terbaik Nasional 2011 versi Majalah Investor. Menurut pemberitaan Serambi Indonesia (13/10/11), laba Bank Aceh Syariah naik kurang lebih 50 persen dari 28,127 miliar rupiah pada tahun 2009 menjadi 42,307 miliar rupiah di tahun 2010. Capaian ini juga disusul oleh kenaikan aset, dari 816 miliar rupiah menjadi 1,150 triliun rupiah.

Capaian positif yang diraih Bank Aceh Syariah ini seyogyanya menjadi pertimbangan bagi pihak yang berwenang dan pengambil kebijakan untuk mengubah sistem perbankan Bank Aceh dari sistem konvensional ke sistem perbankan syariah. Dengan aset yang dimilikinya, kemungkinan besar akan menjadi sebuah kekuatan bagi perkembangan dan kemajuan Bank Aceh dan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh pada umumnya apabila Bank Acehmengadopsi sistem syariah seperti yang sudah diterapkan di Bank Aceh Syariah. Tentu dalam penerapannya, harus lebih hati-hati dalam screening dan pengawasan demi kualitas pelayanan dan pelaksanaan sistem ini.

Dengan sistem ekonomi berbasis syariah, maka diharapkan akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada dalam keadaan darurat. Kebijakan ini juga bertujuan menghindari dari dosa riba yang terus menerus mencederai iman dan ibadah kita selama ini.

Artikel ini dimuat di: Harian Serambi Indonesia tanggal Sabtu, 21 Januari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 8, 2012 by in Ekonomi and tagged , , , .
%d bloggers like this: